Thursday, July 23, 2020

Kritikus Adinan Budi Darma Rasa Kafka


Sigit Susanto *

Budi Darma menulis kumpulan cerita berjudul Kritikus Adinan. Seperti pada karya lain Orang-Orang Bloomington, tokoh-tokohnya selalu berwatak aneh dan konyol seperti orang sakit jiwa.

Kritikus Adinan sejak dari awal diceritakan kedatangan seorang tamu. Ditekankan oleh Budi Darma, pengarangnya bahwa yang `menarik` kedatangan tamu itu pada cara tamu itu masuk pekarangan dengan membunyikan bel sepeda berkali-kali.

Dari narasi `membunyikan bel` ini orang bisa jadi teringat pada novel Proses karya Franz Kafka, tokoh Josef K di saat bangun tidur, karena lapar menunggu sarapan paginya, maka ia `membunyikan bel.` Bedanya saat bel berbunyi itu Kafka tidak menuliskan deskripsi sebagai sesuatu yang menarik. Sebaliknya Budi Darma menekankan dalam deskripsinya, bahwa kedatangan tamu itu tak ada yang menarik dari ujung rambut sampai sandalnya. Yang dianggap `menarik` yakni cara tamu itu memasuki pekarangan dengan membunyikan bel sepeda berkali-kali bahkan tak mau turun.

Kafka menuliskan deskripsi rekonstruksi kamar Felice Bauer yang diacak-acak petugas pengadilan. Ketika Josef K hendak menjelaskan secara kronologis, Felice menolak dengan mengatakan, “Aku tak memerlukan pengantar.“

Kalau aku amati teks-teks Kafka terutama pembuka prosanya, kebanyakan langsung menohok ke tengah kejadian. Misal, pada Metamorfosis: “Suatu pagi Gregor Samsa bangun dari mimpi buruknya, dan ia dapati tubuhnya sudah berubah menjadi kecoak raksasa,“ atau pada novel Proses, “Seseorang pasti telah memfitnah Josef K, sebab pada suatu pagi ia ditangkap tanpa melakukan kejahatan.“

Kafka sepertinya sengaja tak akan memberitahu pembaca dengan narasi. Mungkin dimaksudkan, biarlah pembaca merasakan sendiri sensasi atau getaran kejadian dan menyimpulkan dalam narasinya sendiri. Menurutku, kisah-kisah pada karya Kafka cenderung seperti adegan-adegan drama yang dinamis. Budi Darma sebaliknya, ia memakai `pengantar`…tidak ada yang menarik pada tamu itu-…`kecuali ` caranya bertamu….

Tentu saja itu pilihan bebas sang pengarang. Aku hanya akan membandingkan dengan budaya Indonesia yang mungkin lebih suka memberi pengantar dalam sebuah percakapan baru. Tradisi ini menjalar ke dalam penulisan fiksi.

Tamu itu menunjukkan keanehan lagi, yakni tak mau turun dari atas sepeda, sambil mengeluarkan surat perintah dari pengadilan dari belakang baju dadanya. Semakin tampak sudah, aroma Kafka muncul, karena Josef K juga didatangi oleh pegawai pengadilan di apartemennya.

Kritikus Adinan tak percaya, kalau surat perintah dari pengadilan itu asli. Terjadilah dialog alot saling mengklaim keaslian surat tugas itu. Budi Darma lihai menangkap gesture sang pembawa surat yang lama dipandangi oleh Kritikus Adinan. Sebab pada novel Proses-nya Kafka, setiap tokoh hampir dipastikan sedang bermain drama. Deskripsi Kafka tentang Josef K tidak dijelaskan dalam narasi, namun dalam tingkah laku dan gesture langsung.

Budi Darma menemukan simbol pengadilan. Pada Proses, simbol pengadilan juga muncul pada lukisan seorang hakim agung memakai emblem di seragamnya. Lukisan itu menggantung di dapur pengacara bernama Huld. Josef K sambil bercengkerama dengan Leni si pembantu advokat juga mengamati lukisan itu dengan detil.

Jika pada Proses, petugas pengadilan mempersilakan Josef K `bekerja`, sebaliknya pada cerpen ini, Kritikus Adinan yang berkehendak sendiri akan berangkat `kerja.` Yang jelas niat  bekerja itu tetap ada, walau dalam proses penangkapan.

Nuansa pengadilan yang digambarkan oleh Kritikus Adinan sangat menyerupai tempat Josef K disidangkan. Jika Budi Darma menyebut, Kritikus Adinan sudah sampai di depan rumah. Rumah itu tampak `kuno, besar dan gelap.` Pada Proses, rumah itu terletak di pinggiran kota yang belum pernah K datangi. Alamatnya di Jalan Julius.  Rumah-rumah `tinggi berwarna abu-abu`,…`semua jendela penuh orang`. Budi Darma sebut, yang kadang-kadang disela-sela oleh `jendela-jendela tertutup.`

Kritikus Adinan berhenti menempelkan kupingnya bergantian kiri dan kanan di daun pintu gedung pengadilan. Pada Proses, Josef K tidak menguping di ruang sidang, tetapi di kamar Fraulein Büsrner, karena ketika mereka melakuan peragaan di malam hari, keponakan induk semang apartemen mengetuk dinding kamar, karena terganggu. Tapi Josef K dan Fraulein Bürstner hanya kaget, tak sampai menempelkan kuping mereka ke dinding.

Kritikus Adinan sebut, sebentar untuk melihat `petunjuk` yang tertera di atas tembok. Kafka sebut, K akan mengenali rumah yang akan dipakai untuk tempat sidang, karena ada `petunjuknya`.

Kritikus Adinan `duduk di atas kursi rotan, satu-satunya kursi yang tersedia di situ. Kursi itu agak miring dan bertambah miring ketika ia duduk di atasnya.` Pada Proses berbeda. Josef berada di podium tidak duduk. Tetapi ada deskripsi saat Josef membuka buku di ruang sidang yang kosong itu, ….`seorang laki-laki dan perempuan duduk telanjang di sebuah kursi panjang.`

Budi Darma menggambarkan Kritikus Adinan sering teringat ibunya, juga wejangan kesabaran dari ibunya. Juga punggung Kritikus Adinan terasa ada yang mengilik-ilik dengan lidi dari dalam kamar. Kedua mengingat ibu dan dikilik-kilik lidi itu tidak terdapat sama sekali pada novel Proses.

Tentang Kritikus Adinan yang merasa lapar kemudian ia ke `warung makan.` Nah, sampai di sini ada kisah Josef K yang saat dalam tahanan dibelikan makanan oleh penjaga dari `warung seberang jalan,` karena jatah makan Josef K dihabiskan si penjaga.

Cuma Budi Darma lebih mengembangkan dengan nuansa menu makanan yang amat jorok. Digambarkan bahwa nasinya sudah kedaluwarsa yang hampir busuk dan dagingnya dari bangkai dan bau nanah.

Fantasi Budi Darma memang out of the box, istilah zaman now, ia menggambarkan makanan yang serba busuk dari bangkai. Günter Grass pernah punya deskripsi keluarga Oscar Matzerath makan belut yang ditangkap dari lubang telinga kepala binatang yang membusuk di laut. Mohon penggemar sastra wangi, minggir dulu. Sejatinya apa yang digambarkan Budi Darma memang tidak mewakili kehidupan yang riil, melainkan penuh simbol.

Tapi Kafka yang dikenal suka membelok di tikungan cerita dengan amat surealis, ia tak pernah mendeskripsikan sajian yang menjijikkan. Samsa yang sudah menjadi kecoak saja, paling jauh disebut, bahwa ia lebih suka keju yang basi, susu yang tidak segar, karena naluri binatangnya lebih kuat.

Kesamaan lain Kritikus Adinan dan Josef K sama-sama `terlambat datang` di ruang sidang. Bedanya Josef K berargumen, meskipun terlambat toh akhirnya sudah tiba. Sedang Kritikus Adinan menjawab, sebenarnya sudah datang satu jam sebelumnya, cuma belum masuk ruangan karena perutnya berbunyi.

Suasana di sidang yang dibangun Budi Darma juga mirip dengan Kafka, yaitu ada orang-orang aneh yang berkelompok serta hadirnya pembantu pengadilan yang membantu Kritikus Adinan maupun Josef K.

Sidang harus ditunda, karena saksi belum datang, untuk itu Kritikus Adinan disuruh pulang dan 2 jam lagi harus datang. Sidang Josef K ditunda, bukan karena tak ada saksi, tapi plaidoyer Josef K sendiri yang ketus dan berani, ia tinggalkan sendiri sidang yang aneh itu.

Satu kebiasaan yang disebut berulang-ulang untuk sosok Kritikus Adinan ini adalah bahwa ia sebagai orang yang tidak mau berbuat ramai-ramai. Ia sangat taat wejangan almarhum ibunya. Pada Josef K memang mirip sosok Kafka sendiri yang melankolis, namun dalam berbagai interaksinya Josef K seorang yang sangat pemberani dan ketus.

Barangkali Budi Darma memotret Kritikus Adinan dari sosok Kafka yang sesungguhnya. Sebab Gustav Janouch, sahabat Kafka menuliskan dalam bukunya Percakapan dengan Kafka (Gespräch mit Kafka), memang Kafka lebih digambarkan sebagai orang yang mengalah, tidak mau ramai-ramai dan tidak seberani sosok Josef K.

Ada lagi pernyataan pemilik warung yang identik dengan Proses. Pemilik warung bilang, orang-orang yang dipanggil ke pengadilan adalah orang-orang yang jujur. Pada Proses disebutkan, bahwa biasanya para terdakwa itu sangat perasa dan mudah tersinggung.

Latar yang dibangun Budi Darma sepertinya berada di Indonesia, karena digambarkan di bawah terik matahari dan suara cecak sering diceritakan sebagai mitos. Sebab Kafka sering menggambarkan lanskap alam di musim dingin yang mencekam atau kabut tebal. Juga cecak sangat jarang atau bahkan tak ada di rumah-rumah orang Eropa.

Ketika Kritikus Adinan makan di warung, pembantu pengadilan datang tak lupa membunyikan bel sepeda lagi, guna mengantar surat panggilan untuk sidang yang sempat tertunda.

Pada sidang terjadi dialog konyol mempermasalahkan status Adinan yang dijuluki orang sebagai kritikus. Adinan sendiri tak tahu, tapi ia pastikan bahwa ia sering menulis kritik, sebab itu baik orang yang pernah baca kritiknya maupun yang belum baca memberi julukan Kritikus Adinan. Perguncingan nalar status `kritik` ini memang cukup kritis.

Sidang dinyatakan ditunda sampai lusa. Di sini peran pembantu tampak dominan dalam sidang. Pada Proses, peran istri pembantu yang lebih menyolok dan lebih personal.

Di saat Kritikus Adinan keluar dari ruang sidang itu, pembantu menggebrakkan daun pintu dengan kasar. Sebaliknya pada Proses, justru Josef K sendiri yang mengumpat ke hakim pemerika, kalian gombal.

Ketika Kritikus Adinan keluar dari ruang sidang, ia melangkah masuk ke arah kanan dan menemukan seorang perempuan bernama Rohani. Perempuan itu merasa kesepian sehingga, ia meminta Kritikus Adinan duduk di sampingnya. Nyaris, suasananya mirip pada Proses, ketika Josef K masuk ruang sidang yang pertama, ternyata kosong dan bertemu dengan istri pembantu pengadilan. Pembantu pengadilan itu membeberkan cerita penting, bahwa hakim pemeriksa sering lembur menulis berita acara. Sering kali hakim pemeriksa meminjam lampu dari tempat tidur pembantu pengadilan. Dan pembantu pengadilan itu kemudian meminta Josef untuk duduk di sebelahnya.

Yang membedakan, bahwa ruang sidang ala Budi Darma adalah satu bangunan loteng yang ditempati warga, termasuk perempuan bernama Rohani ini, sedang pada Proses, bahwa ruang tamu pembantu pengadilan itulah yang dipakai ruang sidang, hanya memindahkan perabotnya. Jika tak ada sidang, perabot dikembalikan layaknya ruang tamu keluarga.

Lagi-lagi Budi Darma memakai estetika jorok dalam menggambarkan sosok perempuan bernama Rohani ini. Ia yang kulitnya hitam, `tubuhnya berpunuk,` mirip leher sapi, giginya besar-besar dan kuning dan masih ditambah bau mulutnya seperti bau bangkai tikus.

Khusus `tubuh perempuan berpunuk` ini ada tokoh yang mirip dalam Proses, yakni salah satu murid yang suka melukis dari pelukis nyentrik Titorelli. Memang `gadis berpunuk` itu sering mengganggu Josef K.

Sampai di sini peristiwa yang nuansanya mirip dengan Proses berakhir. Selanjutnya fantasi liar Budi Darma sendiri yang tak ada kaitan dengan Proses.

Tokoh Kritikus Adinan mulai mendengarkan wangsit dari langit, supaya dirinya pulang. Sesampai di rumah ia kembali melanjutkan menulis. Digambarkan bahwa sosok Kritikus Adinan tak pernah keluar rumah setelah matahari terbenam. Ia anak yang taat perintah ibunya.

Di rumah ia membaca setumpuk surat dan ada 3 surat penting. Pertama, ia mendapat tawaran pergi ke luar negeri, untuk pengobatan bisulnya yang sudah akut. Kedua, ada tawaran dari orang lain untuk menggantikan posisinya, jika dirinya harus mendekam di penjara. Ketiga, tawaran dari penerbit untuk menerbitkan naskahnya.

Di tengah kantuknya ia sembarangan saja mengambil sebuah buku dari belakang bantalnya. Ia buka sesukanya saja, terbuka di halaman terjemahan puisi karya Coleridge. Disebutkan pada halaman itu, Kubla Khan memerintahkan rakyatnya untuk membuat istana dengan atap bulat. Istana itu harus di pinggir kali yang mengalir ke laut. Istana itu harus megah dan dibentengi tembok melingkar pada sebuah tanah tinggi yang subur.

Usai membaca itu seolah Ibunya hadir di benaknya menyanyikan lagu Bukit Abora. Ia berangan akan membangunkan istana beratap bulat di langit sana seperti dalam puisi terjemahan itu.

Kegiatan Kritikus Adinan sekarang menulis cerita. Ia menghadirkan tokoh bernama Pinto dan orang tua. Dialog-dialognya seperti di hutan tempat Zarathustra Nietzsche. Pinto kesasar di tengah hutan dan minta petunjuk orang tua untuk berjalan ke kiri atau ke kanan. Orang tua itu menyarankan mengambil jalan ke kanan. Di tengah hutan, justru semakin jauh untuk keluar. Ada bisikan dari atas pohon dan Pinto disuruh kembali lagi dan ambil arah kiri.

Cerita berganti, seolah ibunya datang menari dengan rebab tentang Bukit Abora. Terjadi percakapan antara Kritikus Adinan dan ibunya. Tentang harapan sang anak ingin membangun istana beratap bulat di langit lewat nyanyian ibunya. Kemudian tentang anak kecil yang sengsara dan tiba-tiba menjadi raja.

Cerpen berjudul Kritikus Adinan ini ditutup dengan datangnya seorang pemilik penerbitan, seorang laki-laki berpakaian necis. Orang dari penerbit itu mengajak Kritikus Adinan sambil menyambar naskahnya yang buruk untuk menengok kantor penerbit yang menjulang megah.

Zug, Switzerland: 28 September 2018.
http://sastra-indonesia.com/2020/07/kritikus-adinan-budi-darma-rasa-kafka/

No comments:

Post a Comment

A Kholiq Arif A. Anzieb A. Muttaqin A. Rodhi Murtadho A. Syauqi Sumbawi A.P. Edi Atmaja A'yat Khalili Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Kirno Tanda Abdullah Harahap Acep Zamzam Noor Adi Toha Adrian Balu Afri Meldam Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agus B. Harianto Agus Dermawan T. Agus Hernawan Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agusri Junaidi Ahid Hidayat Ahmad Baedowi Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Khadafi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Alex R. Nainggolan Ali Audah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amir Hamzah Ana Mustamin Anam Rahus Andari Karina Anom Andi Achdian Andra Nur Oktaviani Anindita S Thayf Anton Kurnia Anton Kurniawan Apresiasi Sastra (APSAS) Aprinus Salam Arafat Nur Arie MP Tamba Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Arman A.Z. Aryadi Mellas AS Laksana Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Astree Hawa Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Ngashim Badaruddin Amir Balada Bambang Darto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Budi Darma Bustan Basir Maras Cak Sariban Catatan Cerbung Cerpen Chairil Anwar Christine Hakim Cinta Laura Kiehl Daisy Priyanti Damhuri Muhammad Dandy Bayu Bramasta Dani Sukma Agus Setiawan Daniel Dhakidae Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Dewi Rina Cahyani Dharmadi Dhenok Kristianti Dian Wahyu Kusuma Dick Hartoko Djajus Pete Djoko Pitono Djoko Saryono Donny Anggoro Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Eduard Tambunan Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Faizin Eko Nuryono Emha Ainun Nadjib Enda Menzies Endang Susanti Rustamadji Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evi Idawati Evi Sukaesih F. Rahardi Fadhila Ramadhona Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Fairuzul Mumtaz Faisal Fathur Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Farid Gaban Fariz al-Nizar Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrozak Faza Bina Al-Alim Feby Indirani Felix K. Nesi Fian Firatmaja Fina Sato Fitri Franz Kafka Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunoto Saparie Gus Martin Hairus Salim Hamdy Salad Happy Salma Hardi Hamzah Hardjono WS Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasif Amini HB Jassin Hendy Pratama Henry Nurcahyo Herman Syahara Hernadi Tanzil Heru Nugroho Holy Adib Hudan Hidayat Hudan Nur I Gusti Ngurah Made Agung Iberamsyah Barbary Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idrus Ignas Kleden Ilham Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imelda Bachtiar Imron Rosyid Imron Tohari Indonesia O’Galelano Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indria Pamuhapsari Indrian Koto Inung AS Irwan Kelana Isbedy Stiawan ZS Iva Titin Shovia Iwan Nurdaya-Djafar Iwan Simatupang Jabbar Abdullah Jakob Oetama Jakob Sumardjo Jalaluddin Rakhmat Jaleswari Pramodhawardani James Joyce Jansen H. Sinamo Januardi Husin Jauhari Zailani JJ. Kusni John H. McGlynn Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joni Ariadinata Juan Kromen Junaidi Khab Kahfie Nazaruddin Kamajaya Al. Katuuk Khansa Arifah Adila Kho Ping Hoo Khoirul Abidin Ki Supriyoko Kiagus Wahyudi Kitab Para Malaikat Knut Hamsun Koh Young Hun Kritik Sastra Kucing Oren Kunni Masrohanti Kurniawan Kuswinarto L.K. Ara Laksmi Shitaresmi Lan Fang Landung Rusyanto Simatupang Latief S. Nugraha Leo Tolstoy Lesbumi Yogyakarta Levi Silalahi Linda Sarmili Lukisan Lutfi Mardiansyah M Shoim Anwar M. Aan Mansyur M. Abdullah Badri M. Adnan Amal M. Faizi M.D. Atmaja Mahamuda Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Marianne Katoppo Mario F. Lawi Maroeli Simbolon Mashuri Max Arifin MB. Wijaksana Melani Budianta Mohammad Yamin Muhammad Ainun Nadjib Muhammad Muhibbuddin Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Mulyadi SA Munawir Aziz Mustamin Almandary Mustiar AR Musyafak Timur Banua Myra Sidharta Nara Ahirullah Naskah Teater Nawal el Saadawi Niduparas Erlang Nikita Mirzani Nirwan Ahmad Arsuka Nizar Qabbani Nurel Javissyarqi Nurul Anam Nurur Rokhmah Bintari Oka Rusmini Onghokham Otto Sukatno CR Pakcik Ahmad Pameran Parakitri T. Simbolon Pattimura Pentigraf Peter Handke Petrik Matanasi Pramoedya Ananta Toer Prima Sulistya Priyo Suwarno Prosa Puisi Purwanto Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Sutandya Yudha Khaidar R. Ng. Ronggowarsito R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sutandya Yudhanto Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Prabu Rama Prambudhi Dikimara Ramadhan KH Rambuana Ranang Aji SP Ratih Kumala Ratna Ajeng Tejomukti Raudal Tanjung Banua Raymond Samuel Reko Alum Remmy Novaris DM Remy Sylado Resensi Rey Baliate Ribut Wijoto Riduan Situmorang Rikard Diku Riki Dhamparan Putra Riri Satria Rizki Alfi Syahril Robert Adhi KS Roland Barthes Ronggowarsito Rony Agustinus Royyan Julian Rozi Kembara Rumah Kreatif Suku Seni Riau (RK – SSR) Rusdy Nurdiansyah Rusydi Zamzami S. Arimba S. Jai Sabrank Suparno Safar Nurhan Sajak Samsul Anam Santi T. Sapardi Djoko Damono Sari Novita Sarworo Sp Sasti Gotama Sastra Luar Pulau Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekar Sari Indah Cahyani Selendang Sulaiman Seni Rupa Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Setiyardi Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sobih Adnan Soegiharto Sofyan RH. Zaid Sonia Sosiawan Leak Sovian Lawendatu Sri Wintala Achmad Stephen Barber Subagio Sastrowardoyo Sugito Ha Es Sukron Ma’mun Sumargono SN Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syaifuddin Gani T. Sandi Situmorang Tatan Daniel Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Eska Teguh Afandi Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Toeti Heraty Tri Umi Sumartyarini Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Usman Arrumy Wahyu Dhyatmika Wahyu Hidayat Wawancara Wayan Jengki Sunarta Welly Kuswanto Wicaksono Adi Willem B Berybe WS. Rendra Y.B. Mangunwijaya Yohanes Sehandi Yudhistira ANM Massardi Yukio Mishima Yusi A. Pareanom Zainal Arifin Thoha Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito Zeynita Gibbons Zulfikar Akbar