Saturday, August 1, 2020

Mitos Indonesia

Radhar Panca Dahana *
Kompas, 19 Mei 2010

SEJAK pertama kita beraktivitas hidup masa kini, sebenarnya ada kenyataan baru sadar atau tidak yang kita akui: Indonesia, negeri tempat kita bertaut dan mengacu diri, ternyata telah menjadi mitos.

Kenyataan baru telah menggeser kenyataan menjadi dunia abstrak, gelap, tak terukur, dan terpendam di dasar ingatan.

Dunia baru yang menghidupi dan kita hidupi saat ini adalah sebuah ruang yang diisi berbagai tatanan yang mengartifisialisasi, mematerialisasi, menyuperfisialisasi, hampir semua perangkat dasar kemanusiaan kita, baik fisikal, mental-spiritual, maupun intelektual. Semua jadi terukur, mekanis, dan praktis. Dalam gradasi keakutan masing-masing, hidup kian pragmatis, oportunis, bahkan hedonis.

Apa yang kita bayangkan sebagai manusia (kepulauan) Indonesia yang ramah, santun, jujur-percaya, spiritualistis, gotong royong, empatik, atau penuh rasa hormat, tinggal jadi cerita usang. Dalam lelucon, sinisme, fabel, atau roman-roman, sastra lisan dan buku-buku komik. Semua yang berkumpul di satu ceruk kesadaran mistis kita adalah kenyataan yang kita bayangkan senantiasa ada, padahal ia hanya khayal atau obsesi belaka.

Asing di rumah sendiri

Kenyataan yang ”terangkat” (atau ”terpendam”?) itu segera tersadari ketika masuk ke rumah sakit mana saja. Kita seperti kehilangan hak, terabaikan, terkomodifikasi karena harus mengeluarkan lebih dulu sejumlah uang sebelum kita ditangani. Segera kita merasa asing. Merasa menjadi tamu murahan di sebuah rumah, yang sesungguhnya hanya kamar kecil atau bagian dari rumah besar bangsa kita.

Apakah tidak demikian yang kita alami, saat dihentikan polisi dari balik tikungan atau keremangan pepohonan? Saat terjebak dalam antrean: tiket mudik Lebaran, lalu lintas macet, hingga permohonan jaminan kesehatan? Saat bertemu aparat pemerintah yang selaiknya melayani tetapi ternyata memecundangi kita? Saat menonton televisi tentang kelakuan elite di parlemen, kabinet, partai politik, lembaga penegak hukum?

Apakah Anda menemukan diri sendiri, menemukan Indonesia yang kita pahami sejak dini (mungkin sudah dalam bentuk sejarah atau cerita rakyat), saat mencoba mengerti apa yang terjadi di balik kasus Century, Sri Mulyani, Sekber Partai Koalisi, hingga penangkapan Susno?

Betulkah itu Indonesia, saat kedegilan, keserakahan, kebencian, kebohongan, dan semua tabiat hitam manusia, secara terbuka dan tanpa urat malu muncul dalam skenario politik, perilaku, drama, dan gaya hidup elite kita belakangan ini?

Indonesia yang kita pahami dan coba terus kita kenali—yang ironisnya kian tidak kita kenali—memang sudah pergi, meninggalkan kita. Meninggalkan masa kini dan masa nanti kita.

Sejarah mitologis

Masa lalu bagi negeri ini, bagi kita, bukanlah data yang cerah, jelas dan bening, seperti yang dibayangkan ilmu dan rasionalitas. Karena kelangkaan data, minimnya catatan tertulis, buruknya tradisi dokumentasi kita, juga karena ”permainan” dari para orientalis serta ”indonesianis” hingga permainan politik dan ideologi penguasa, hampir seluruh momen penting dalam sejarah, sesungguhnya telah kabur, remang-hingga-gelap, abstrak, bahkan mistis.

Ketika peradaban-peradaban tua seperti Mesir, China, dan India memiliki data dan bukti adekuat tentang kenyataan purba mereka, bahkan hingga ribuan tahun sebelum masehi, peradaban kepulauan ini hanya menyimpan data dan bukti sekitar 500 tahun lalu dalam mitologi belaka.

Bagaimana sebenarnya tata hidup Majapahit, siapa sesungguhnya Gajah Mada, Wali Sanga-Syekh Siti Jenar, bilakah Islam masuk, hingga siapa itu Joko Tingkir atau Untung Suropati, belum pernah diketahui pasti. Tak perlu terlalu jauh. Bagaimana terjadinya dan di mana keberadaan Supersemar, masih teka-teki. Padahal, baru terjadi 44 tahun lalu. Bahkan, apa yang terjadi di balik reformasi, siapa sebenarnya yang ”menjatuhkan” Soeharto, belum kita dapatkan.

Sebagaimana kita cepat melupakan persoalan, sebesar dan sevital apa pun tentang bangsa ini, kita secara kolektif dan umumnya diinisiasi kepentingan elite, senantiasa memproduksi cerita bahkan fiksi dari sebuah data (peristiwa). Menciptakan mitologi—modern atau urban—kita sendiri. Setiap hari.

Pengerdilan

Sejarah tempat adab, adat, dan tradisi tersimpan, tidak lagi menjadi sumber eksistensi. Posisinya diminorkan dan distigmatisasi oleh standar hidup masa kini. Segala bentuk jati diri dan upaya eksistensial cepat terlempar ke masa lalu menjadi hikayat. Betapa pengerdilan ilmu dan rasionalisme telah memangkas makna sejarah.

Sesungguhnya dengan pengerdilan itu, hampir delapan bagian dari diri kita, dari peradaban sejati bangsa kepulauan ini, terpendam dalam misteri.

Karena itu, masih menimbulkan rasa bingung dan tidak percaya, bahkan sebagian menerimanya sebagai ”teror” kemustahilan ketika ada temuan: sejak ribuan tahun sebelum Masehi bangsa kepulauan ini telah memiliki teknologi kelautan dan pelayaran canggih serta menjadi rujukan banyak peradaban lain.

Bahkan, fakta adanya suku bangsa yang cukup berpengalaman di masa kita, oleh buku sejarah resmi dikabarkan masih menjadi manusia-goa. Bahwa bukan kita yang jadi tempat pelarian atau penjelajahan bangsa kontinental, melainkan justru bangsa kitalah yang mendarat dan menetap di sana lebih dulu. Ternyata, masih terasa begitu aneh untuk menyadari bahwa kita bukanlah bagian dari bangsa-bangsa dan peradaban kontinental (daratan), melainkan maritim (kelautan).

Terlebih jika saya menyodorkan sebuah proposisi hipotetikal: semakin mengetahui realitas diri kita (yang kita mitologisir sendiri itu), sesungguhnya semakin dekat kita pada pengetahuan yang memiliki kemampuan adekuat untuk mengantisipasi dan menjawab tuntas persoalan-persoalan kehidupan kita masa kini. Ini bukan soal memercayai atau tidak, melainkan membuktikan. Tinggal, apakah Anda masih bergeming menyatakan apa yang disebut ”lalu”, ”adat”, ”tradisi”, bahkan ”mitologi” sebagai dunia yang beku, statis, zombiistik, kuno, dan ”tidak modern”?

Bisa jadi, kunci dari kekuatan peradaban (purba) kepulauan ini sesungguhnya ada di sikap mental itu. Begitu akutkah? Begitu beratkah mengubahnya? Jawaban sebenarnya tersedia. Namun, Anda yang memberi lebih dulu.

________________________
*) Radhar Panca Dahana, Budayawan
http://cabiklunik.blogspot.com/2010/05/mitos-indonesia.html

No comments:

Post a Comment

A Kholiq Arif A. Anzieb A. Muttaqin A. Rodhi Murtadho A. Syauqi Sumbawi A.P. Edi Atmaja A'yat Khalili Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Kirno Tanda Abdullah Harahap Acep Zamzam Noor Adi Toha Adrian Balu Afri Meldam Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agus B. Harianto Agus Dermawan T. Agus Hernawan Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agusri Junaidi Ahid Hidayat Ahmad Baedowi Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Khadafi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Alex R. Nainggolan Ali Audah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amir Hamzah Ana Mustamin Anam Rahus Andari Karina Anom Andi Achdian Andra Nur Oktaviani Anindita S Thayf Anton Kurnia Anton Kurniawan Apresiasi Sastra (APSAS) Aprinus Salam Arafat Nur Arie MP Tamba Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Arman A.Z. Aryadi Mellas AS Laksana Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Astree Hawa Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Ngashim Badaruddin Amir Balada Bambang Darto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Budi Darma Bustan Basir Maras Cak Sariban Catatan Cerbung Cerpen Chairil Anwar Christine Hakim Cinta Laura Kiehl Daisy Priyanti Damhuri Muhammad Dandy Bayu Bramasta Dani Sukma Agus Setiawan Daniel Dhakidae Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Dewi Rina Cahyani Dharmadi Dhenok Kristianti Dian Wahyu Kusuma Dick Hartoko Djajus Pete Djoko Pitono Djoko Saryono Donny Anggoro Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Eduard Tambunan Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Faizin Eko Nuryono Emha Ainun Nadjib Enda Menzies Endang Susanti Rustamadji Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evi Idawati Evi Sukaesih F. Rahardi Fadhila Ramadhona Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Fairuzul Mumtaz Faisal Fathur Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Farid Gaban Fariz al-Nizar Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrozak Faza Bina Al-Alim Feby Indirani Felix K. Nesi Fian Firatmaja Fina Sato Fitri Franz Kafka Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunoto Saparie Gus Martin Hairus Salim Hamdy Salad Happy Salma Hardi Hamzah Hardjono WS Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasif Amini HB Jassin Hendy Pratama Henry Nurcahyo Herman Syahara Hernadi Tanzil Heru Nugroho Holy Adib Hudan Hidayat Hudan Nur I Gusti Ngurah Made Agung Iberamsyah Barbary Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idrus Ignas Kleden Ilham Imam Muhayat Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imelda Bachtiar Imron Rosyid Imron Tohari Indonesia O’Galelano Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indria Pamuhapsari Indrian Koto Inung AS Irwan Kelana Isbedy Stiawan ZS Iva Titin Shovia Iwan Nurdaya-Djafar Iwan Simatupang Jabbar Abdullah Jakob Oetama Jakob Sumardjo Jalaluddin Rakhmat Jaleswari Pramodhawardani James Joyce Jansen H. Sinamo Januardi Husin Jauhari Zailani JJ. Kusni John H. McGlynn Joko Budhiarto Joko Pinurbo Joni Ariadinata Juan Kromen Junaidi Khab Kahfie Nazaruddin Kamajaya Al. Katuuk Khansa Arifah Adila Kho Ping Hoo Khoirul Abidin Ki Supriyoko Kiagus Wahyudi Kitab Para Malaikat Knut Hamsun Koh Young Hun Kritik Sastra Kucing Oren Kunni Masrohanti Kurniawan Kuswinarto L.K. Ara Laksmi Shitaresmi Lan Fang Landung Rusyanto Simatupang Latief S. Nugraha Leo Tolstoy Lesbumi Yogyakarta Levi Silalahi Linda Sarmili Lukisan Lutfi Mardiansyah M Shoim Anwar M. Aan Mansyur M. Abdullah Badri M. Adnan Amal M. Faizi M.D. Atmaja Mahamuda Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Marianne Katoppo Mario F. Lawi Maroeli Simbolon Mashuri Max Arifin MB. Wijaksana Melani Budianta Mohammad Yamin Muhammad Ainun Nadjib Muhammad Muhibbuddin Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Mulyadi SA Munawir Aziz Mustamin Almandary Mustiar AR Musyafak Timur Banua Myra Sidharta Nara Ahirullah Naskah Teater Nawal el Saadawi Niduparas Erlang Nikita Mirzani Nirwan Ahmad Arsuka Nizar Qabbani Nurel Javissyarqi Nurul Anam Nurur Rokhmah Bintari Oka Rusmini Onghokham Otto Sukatno CR Pakcik Ahmad Pameran Parakitri T. Simbolon Pattimura Pentigraf Peter Handke Petrik Matanasi Pramoedya Ananta Toer Prima Sulistya Priyo Suwarno Prosa Puisi Purwanto Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya R Sutandya Yudha Khaidar R. Ng. Ronggowarsito R. Timur Budi Raja Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sutandya Yudhanto Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Prabu Rama Prambudhi Dikimara Ramadhan KH Rambuana Ranang Aji SP Ratih Kumala Ratna Ajeng Tejomukti Raudal Tanjung Banua Raymond Samuel Reko Alum Remmy Novaris DM Remy Sylado Resensi Rey Baliate Ribut Wijoto Riduan Situmorang Rikard Diku Riki Dhamparan Putra Riri Satria Rizki Alfi Syahril Robert Adhi KS Roland Barthes Ronggowarsito Rony Agustinus Royyan Julian Rozi Kembara Rumah Kreatif Suku Seni Riau (RK – SSR) Rusdy Nurdiansyah Rusydi Zamzami S. Arimba S. Jai Sabrank Suparno Safar Nurhan Sajak Samsul Anam Santi T. Sapardi Djoko Damono Sari Novita Sarworo Sp Sasti Gotama Sastra Luar Pulau Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekar Sari Indah Cahyani Selendang Sulaiman Seni Rupa Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Setiyardi Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sobih Adnan Soegiharto Sofyan RH. Zaid Sonia Sosiawan Leak Sovian Lawendatu Sri Wintala Achmad Stephen Barber Subagio Sastrowardoyo Sugito Ha Es Sukron Ma’mun Sumargono SN Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syaifuddin Gani T. Sandi Situmorang Tatan Daniel Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Eska Teguh Afandi Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Toeti Heraty Tri Umi Sumartyarini Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Usman Arrumy Wahyu Dhyatmika Wahyu Hidayat Wawancara Wayan Jengki Sunarta Welly Kuswanto Wicaksono Adi Willem B Berybe WS. Rendra Y.B. Mangunwijaya Yohanes Sehandi Yudhistira ANM Massardi Yukio Mishima Yusi A. Pareanom Zainal Arifin Thoha Zehan Zareez Zen Rachmat Sugito Zeynita Gibbons Zulfikar Akbar